Saksi Bisu Sang SB 723
SURABAYA, [22 Juni 2025] – Di bawah kanopi langit mendung, sebuah perjalanan menapaki jejak waktu terukir pada Minggu, 22 Juni 2024. Enam Pramuka UNESA dari KP 24, ditemani Kak Andika sebagai penguat narasi dan Kak Retno dari Kapten Divisi Cyber Pramuka UNESA sebagai pemateri, menyelami relung-relung sejarah Kota Lama Surabaya. Destinasi yang baru diresmikan Walikota Eri Cahyadi pada 3 Juli 2024 ini, adalah permata budaya yang berlokasi strategis di Jl. Gula No.14-A, Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan.

Kami mengitari lorong sejarah, melihat sudut sudut bangunan yang kental akan ornamen sejarah. Penuh dengan bangunan kuno dan tanaman yang menghiasi menambah kesan sejarah sehingga cerita cerita dibaliknya dapat dirasakan seolah kita masuk kedalam mesin waktu sejarah di era kemerdekaan.
Di antara lorong waktu yang sunyi, diapit megahnya Gedung Cerutu "Said bin Oemar Bagil" di timur dan aura historis Jembatan Merah di barat, sebuah replika mobil sedan berplat nomor SB 723 membisu. Ia adalah duplikat dari kendaraan mewah Brigadir Aubertin Walter Sothern (AWS), seorang tokoh yang hidupnya terenggut tragis bersama mobilnya, menjadi penanda awal meletusnya Pertempuran 10 November yang heroik.
Kisah kelamnya bersemi pada 30 Oktober 1945. Di sanalah, sedan La Salle Series 52 yang anggun ini menjadi tunggangan Brigadir AWS dan rombongannya menuju Gedung Internatio, mengusung misi mulia yaitu dialog perdamaian antara Indonesia dan Sekutu. Namun, takdir berkata lain. Ledakan granat atau tembakan misterius merenggut nyawa sang Brigadir, merobek harapan perdamaian, dan menjadikan SB 723 saksi bisu pecahnya api revolusi. Menyulut api perjuangan arek arek Surabaya.

Mobil yang hancur itu kini bukan sekadar artefak, melainkan relik pengingat betapa gentingnya kondisi negeri di ambang kemerdekaan. Ironisnya, di tengah pusaran sejarah yang begitu kental, realitas di lapangan membisikkan keprihatinan. Generasi kini, seolah terbius gemerlap swafoto, seringkali melupakan esensi dari narasi yang membentuk tempat itu sendiri. Sejarah, bagi sebagian, tereduksi menjadi sekadar mata pelajaran yang menguap begitu bel pulang sekolah berbunyi.
"Generasi sekarang cenderung apatis terhadap sejarah karena dianggap membosankan," tutur sepasang suami istri alumni IKIP Negeri Semarang, sembari menghela nafas panjang. "Perlu adanya terobosan dari pemerintah, bukan hanya program, tetapi juga dukungan nyata agar generasi muda kembali terpikat dan tidak melupakan akar bangsanya."
Siang itu, di antara bisikan angin dan hembusan kenangan, sebuah kesimpulan meresap: sejarah bukanlah belenggu masa lalu, melainkan lentera kebijaksanaan. Sebuah anugerah tak ternilai yang sepatutnya menjadi mata air pengetahuan bagi setiap insan. Meskipun jarak waktu memisahkan kita dari episode kemerdekaan, sejarah adalah fondasi yang membentuk negeri ini, tak lekang dimakan zaman.
Oleh : Dwi Yulika Sri Lestari
Share It On: