Hidup yang Tak Pernah Mati di Kota Lama Surabaya
Mengisi akhir pekan dengan kegiatan yang menarik, pada hari Minggu 22 Juni 2025 Pramuka Unesa kembali melakukan aktivitas rutinnya yang dilakukan setiap minggu, tepatnya latihan rutin, kali ini diberi nama “Jurnalistik Tour” dengan diikuti oleh 6 anggota Pramuka Unesa angkatan KP 2024. Berkunjung ke tempat di mana mereka bisa menemukan gedung-gedung kolonial yang masih berdiri megah, pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya dan suara bising kendaraan yang berlalu lalang. Tempat ini istimewa dengan perpaduan warisan sejarah dan denyut kehidupan masa kini yang tak pernah berhenti. Para pedagang, pejalan kaki, dan masyarakat lokal yang sudah turun-temurun tinggal di sana menghiasi kehidupan kota yang selalu megah itu. Kawasan Jembatan Merah dan sekitarnya yang menjadi saksi bisu sejarah panjang Surabaya. Penghubung antara masa lalu dan masa kini menjadi tempat yang masih relevan, serta menawarkan identitas khas yang tak dimiliki kota modern lainnya. Meski banyak bangunan tua yang mulai rapuh, namun kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi tetap bergeliat.

Mentari memantulkan cahaya hangat ke dinding-dinding bangunan tua di kawasan Jembatan Merah. Dinding-dinding itu mungkin telah berumur lebih dari seabad, namun semangat di sekitarnya masih hidup dan menggeliat. Kota Lama Surabaya bukan sekadar tempat. Ia adalah ruang waktu. Di sana, langkah kaki menyusuri trotoar yang retak adalah juga langkah ke dalam kenangan. Para pedagang yang menjajakan dagangannya dan pengunjung yang memotret bangunan lawas — semua menciptakan mozaik kehidupan yang unik.
Meski sempat terabaikan, Kota Lama perlahan kembali bersinar. Pemerintah Kota Surabaya mulai melakukan revitalisasi beberapa titik penting. Gedung-gedung tua dibersihkan, ruang publik diperindah, dan kawasan pedestrian diperbaiki tepatnya pada tanggal 23 Juni 2024, menurut situs Pemkot Surabaya. Revitalisasi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kawasan bersejarah tersebut dan meningkatkan daya tarik wisata. Namun, kehidupan di sana sejatinya tidak pernah mati. Masih banyak warga yang menggantungkan hidup dari kawasan ini. Beberapa di antaranya adalah keturunan pedagang zaman dahulu yang tetap setia membuka toko kelontong. Ada pula tukang becak yang tak pernah absen menyapa pagi dengan senyuman hangat. “Kota Lama menjadi sapaan hangat para pengunjung dengan suguhan artefak-artefak bangunan yang bergaya Eropa menjadikannya sangat menawan dan memberi balutan memori mengenai perjuangan para penjajah di era belanda” ujar salah satu pengunjung yang merupakan anggota Pramuka Unesa.

Tak hanya manusia, bangunan-bangunan pun ikut 'berbicara'. Arsitektur kolonial dengan jendela besar dan pintu kayu tinggi memancarkan cerita tentang masa lalu yang tak lekang. Kota Lama kini juga mulai dilirik generasi muda. Mereka datang bukan hanya untuk berswafoto, tetapi juga untuk mengenal sejarah kota mereka. Dalam setiap sudut, Kota Lama menawarkan pelajaran diam tentang ketahanan, keberagaman, dan identitas. Harapannya, Kota Lama Surabaya tidak hanya menjadi “tempat wisata sejarah”, tetapi benar-benar menjadi ruang hidup berkelanjutan yang memadukan nilai-nilai masa lalu dengan kebutuhan masa kini. Dengan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan komunitas, Kota Lama akan terus menjadi saksi bahwa kehidupan — meski tergerus waktu — tak pernah benar-benar mati.
Minggu, 22 Juni 2025
Oleh : Jelita Dwik Kartika KP 24
Share It On: