Cerita Sedih Belakang Sanggar
Tak ada kalimat yang bisa membuat kita pernah merasa puas atas tanggungjawab yang telah kami emban. Cacian dan gunjingan sering terdengar tertuju kepada bidang kerumahtanggan walaupun sedikit samar. Apalah daya kita yang selau terus berkaca telah banyaknya kurang kami. Hanya angin sore yang berdesir pelan, seolah ikut menghela napas panjang. Menjadi Kerumahtanggaan berarti ada sapu ditangan yang harus diayunkan, berarti ada tangan yang bau sabun cuci piring, dan baju yang selalu menyimpan jejak asap pembakaran sampah. Bagi banyak orang, itu adalah tugas sunyi tanpa panggung, tanpa sorotan. Kami menerimanya dengan senyum tipis, meski di dalam hati terselip rasa pilu yang tak terucap.
Kami sempatkan sedikit beristirahat di gudang sempit kumuh dan belakang sanggar untuk meneguk segelas air putih yang membawa perbincangan persaudaraan layaknya keluarga. Ketika hujan turun, kami berlari menyelamatkan inventaris sanggar ketika kegiatan memuncak, kami justru tak terlihat karena sibuk memastikan semua berjalan lancar. Lelah sering datang tanpa permisi, disertai rasa sepi karena jarang disebut dalam laporan atau ucapan terima kasih. Setiap malam, saat lelah sudah terkesampingkan kami bertiga menyemnpatkan duduk di sudut sepi, mengcap sedikit cemilan sisa sambil merenung beginikah rasanya mengabdi tanpa pamrih?

Waktu berjalan tanpa ampun. Satu tahun berlalu, dan lencana dewan racana hampir ditanggalkan. Ada kesedihan yang menggantung seperti kehilangan sesuatu yang tak sempat benar-benar diucapkan. Namun, justru di situlah kami menyadari makna dari “sedih” yang selama ini dirasakan. Sedih itu bukan luka, melainkan haru. Haru karena pernah menjadi bagian dari keluarga kecil yang saling menjaga tanpa pamrih. Haru karena dari Kerumahtanggaan, kami belajar tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Kesedihan itu adalah sedih kebahagiaan kenangan berharga yang akan selalu kami bawa, bahkan setelah seragam dilepas dan masa jabatan usai.
Share It On: