Kisah Kami Bendahara Racana
Tulisan
ini kami tulis bersama, dari dua kepala yang sejak awal tak pernah benar-benar
sejalan.
Yang
satu cenderung serius, tak terlalu suka bercanda. Yang satu lagi jenaka, sering
melontarkan tawa di saat yang lain ingin hening. Yang satu bicara ceplas-ceplos,
yang satunya hatinya tak kuat menerima nada tinggi, meski hanya tersirat. Kami
sama-sama keras, sama-sama menyimpan, sama-sama merasa paling benar pada
masanya.
Sejak awal, kami tidak cocok dan kami tahu itu.
Di
awal perjalanan, kepercayaan bukanlah hal yang langsung tumbuh.
Ego kami lebih tinggi dari visi. Kami bekerja bersama bukan karena saling memahami, melainkan karena keadaan memaksa kami berada di peran yang sama. Salah paham menjadi hal biasa, diam menjadi pilihan, dan luka belajar bersembunyi. Kami berjalan berdampingan tanpa benar-benar saling mendengar.
Menjadi
bendahara membuat kami paham satu hal penting, ini bukan sekadar tentang uang.
Bendahara seringkali bukan dianggap manusia, melainkan fungsi. Diingat saat dana dibutuhkan, dilupakan saat tanggung jawab mulai menjerat. Setiap rupiah seolah bernyawa, setiap kesalahan kecil terasa seperti dosa yang tak bisa ditarik kembali. Kami belajar hidup dalam kewaspadaan, bukan karena takut salah hitung, tetapi karena tahu betul siapa yang akan disalahkan.
Ada
hari-hari ketika kejujuran terasa mahal.
Kalimat
seperti “dipermudah saja” atau “angkanya disesuaikan” datang dengan wajah yang
seolah menolong. Bohong tak pernah disebutkan, karena dosa memang sering hadir
dengan nama yang lebih sopan. Kami menolak bukan karena merasa paling suci,
tapi karena takut, takut pada dunia, dan lebih takut pada akhirat.
Kesepian
paling cepat kami pelajari di gedung-gedung tinggi.
Lantai
empat menjadi saksi paling jujur.....
lorong dingin, pintu-pintu yang tak sepenuhnya terbuka, dan pertanyaan yang bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menguji seberapa kuat seseorang bisa ditekan tanpa menangis. Kami sering keluar dengan senyum tipis, menyimpan runtuh yang sama di dalam dada.
Organisasi sering berbicara tentang persaudaraan, tetapi jarang memberi ruang pada beban yang dipikul di baliknya. Saat program berjalan, banyak yang berdiri di depan; ketika laporan diminta, nama kami yang disebut. Transparansi dituntut, sementara empati kerap absen. Kami memotong anggaran bukan karena sembarangan, melainkan karena mempertimbangkan kebutuhan bersama ke depan dan keberlanjutan organisasi.
Namun tak semua memahami pilihan itu. Yang terdengar hanya bahwa dana masih ada, seolah angka di saldo adalah satu-satunya ukuran amanah. Kami memilih menahan beberapa kebutuhan program dan menata ulang prioritas agar tidak membebani masa selanjutnya. Ketika uang menipis, kami yang disalahkan, padahal yang berkurang bukan hanya saldo, tetapi juga rasa dipercaya.
Perubahan
datang ketika kami mulai berhenti saling bertahan sendiri.
Kami belajar terbuka, mengakui lelah, dan mengucapkan maaf tanpa sibuk membela diri. Perlahan kami saling memahami, saling memaafkan, dan mulai berjalan beriringan. Bukan karena luka menghilang, tapi karena kami belajar menenangkannya bersama.
Kami
sadar, kami tidak sampai di titik ini hanya berdua.
Ada yang mendorong, ada yang membersamai, ada yang menguatkan tanpa banyak suara. Proses ini mengajarkan kami bahwa menjadi bendahara bukan hanya tentang manajemen keuangan, tetapi juga manajemen emosi, diri, dan waktu. Tentang belajar tumbuh bersama, meski awalnya terasa mustahil.
Pada
akhirnya, kami mengerti satu hal penting yaitu
hubungan yang hangat tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh dari ketidakcocokan yang dihadapi, ego yang dilunakkan, salah paham yang diselesaikan, dan proses panjang yang tak selalu mudah. Dan jika kelak masa jabatan ini berakhir, yang kami bawa pulang bukan hanya lelah, tapi juga doa, semoga amanah ini tak menjadi saksi yang memberatkan kami, dan semoga perjuangan yang pernah kami jalani bersama tak pernah sia-sia.
Kebersamaan
dalam amanah ini tidak pernah manis di awal…
Ia lahir dari ketidakcocokan, diuji oleh ego, dan ditempa oleh banyak diam. Namun perlahan, melalui bertahan dan belajar, yang semula kaku mulai mencair. Yang dulu sulit saling memahami, kini saling menjaga. Bukan karena semuanya menjadi mudah, melainkan karena kami memilih tumbuh bersama dan menghangat di tengah proses yang tak selalu ramah.
~Bendahara
Racana KH Dewantara dan RA Kartini 2025
Bagus
Fajar Nur Rohman & Pipit Novita Sari
Share It On: