Ampel, Ketika Langkah Ziarah Bertemu Riuh Pasar dan Denyut Sejarah
Pagi itu, tim kami yang beranggotakan Fika, Rizki, dan Jelita, berangkat dari sanggar Pramuka Unesa dengan penuh semangat menuju Kampung Arab Sunan Ampel. Di antara hiruk-pikuk kota Surabaya, tempat ini menyimpan kisah yang kaya lebih dari sekadar tempat ziarah, Kampung Arab Sunan Ampel adalah pusat perdagangan dan wadah tradisi yang bertahan menembus zaman. Melalui lensa kami, perjalanan ini bukan hanya soal menjejak jejak spiritual Sunan Ampel, tapi juga menyelami denyut kehidupan komunitas yang memelihara warisan budaya dengan hangat dan penuh hormat.

Tim
kami memulai liputan dari kawasan Selatan gang
area masjid sunan Ampel. Di sana, kami berbincang dengan seorang tukang
parkir yang mengatur area parkir sejak tahun 1997. Beliau mengenang kawasan
Ampel yang dulunya masih sepi jika dibandingkan sekarang. Bangunan toko di sekitar
area parkiran yang kini kita lihat sebagai pusat perdagangan tergolong bangunan
baru, sementara bangunan dalam yang menjadi lokasi sentra oleh-oleh sudah
berdiri sejak sekitar tahun 2000. Menurut beliau, puncak keramaian Kawasan
Religi Ampel mulai terasa pada tahun 2002, ketika pengunjung banyak berdatangan
langsung dari Terminal Jembatan Merah menggunakan kendaraan pribadi atau
angkutan umum.
Melanjutkan
perjalanan, kami bertemu Bapak Penjual Peci di Toko Dunia Tasbih,
yang sudah menggeluti usaha sejak tahun 1998. Jam tutup toko ini biasanya
hingga pukul 17.00 WIB di hari biasa, dan diperpanjang sampai pukul 22.00 WIB
selama bulan puasa. Pada awalnya, hanya tasbih yang beliau jual dengan harga
satu kodi Rp35.000 dan satuan Rp10.000.
Penjualan
mulai meningkat pesat sejak tahun 2001, tapi sempat turun signifikan saat terjadi
bencana pandemi Covid-19 . Anehnya, justru selama pandemi penjualan peci sempat
lebih ramai dibanding biasanya. Namun kini, penjualan belum kembali seperti saat
sebelum pandemi. Beliau juga menjelaskan setiap hari Jumat malam adalah waktu
yang paling ramai, saat suasana pasar benar-benar hidup
Menurut penuturan beliau, pedagang kaki lima terus berpindah sebelum keberadaan paguyuban Himpunan Pedagang Kecil Ampel Suci Surabaya (HPKAS), Beliau dan rekan-rekan pedagang kaki lima harus berpindah-pindah tempat berjualan. Paguyuban ini hadir untuk mengelola kebersihan dan penataan tempat sehingga pedagang kaki lima lebih tertib, karena mempunyai tempat permanen untuk berjualan. Meski tidak membayar sewa tempat, sejak pandemi mereka harus membayar iuran kebersihan.
Setelah wawancara dengan Bapak Penjual Peci, kami berbincang dengan Pak Agus, Ketua Paguyuban Kaki Lima (PKL) Ampel, yang menjelaskan peran penting pedagang dalam menunjang daya tarik wisata religi di kawasan tersebut. Menurut Pak Agus, sekitar 80% pengunjung Kawasan Religi Ampel berasal dari luar Surabaya, sementara 20% sisanya adalah warga Surabaya sendiri.

Pedagang
kecil di Kawasan Ampel menyediakan berbagai kebutuhan ibadah dan oleh-oleh yang
mendukung pengalaman para peziarah, sehingga wisata religi di sini menjadi
lebih lengkap dan menarik. Kehadiran mereka juga menciptakan suasana hidup yang
membuat pengunjung terus bertambah karena terpesona. Dengan pengelolaan yang
baik oleh PKL, kebersihan dan keteraturan terjaga sehingga destinasi wisata
religius ini tetap nyaman untuk dikunjungi.
Pak
Agus menegaskan bahwa sinergi antara pedagang, pengelola tempat ibadah, dan
pengunjung menjadi kunci keberhasilan Kawasan Ampel sebagai pusat wisata religi
sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Dari
parkiran yang sepi hingga pasar yang penuh semangat di malam Jumat, kisah Ampel
dan para pedagangnya menjadi saksi perjalanan sebuah usaha kecil yang bertahan
dan beradaptasi selama puluhan tahun.
Reporter : Jelita Dwi Kartika
Fika Rakhma Ridho
Ahmad Rizkie A.
Share It On: